PINKAN Berharap Alat Musik Kolintang Diakui UNESCO

  • Share
Alat Musik Kolintang
Alat Musik Kolintang

SELOKO.ID | JAKARTA – Alat musik kolintang kayu sebagai warisan budaya tak benda, benar-benar milik Bangsa Indonesia harus diperjuangkan pengakuannya sehingga dapat dipersembahkan menjadi warisan yang berharga dan bermanfaat bagi semua orang.

Penny Iriana Marsetio, Ketua Umum Persatuan Insan Kolintang Nasional (PINKAN) Indonesia, saat pendokumentasian musik Kolintang mengiringi lagu-lagu sholawat dalam rangka Ramadan mengatakan, alat musik kolintang adalah keberagaman dan multi fungsi. Alat musik kolintang bisa berkolaborasi mengiringi berbagai jenis irama lagu.

“Saya ingin menyatakan kepada seluruh masyarakat bahwa benar adanya kolintang milik masyarakat Indonesia, Sulawesi Utara khususnya. Bahwa Kolintang, dia tidak hanya untuk satu golongan namun milik semua. Kolintang bisa juga mengiringi lagu-lagu sholawat dengan begitu indah,” ujar Penny Iriana Marsetio kepada media, di Markas Kolintang PINKAN Indonesia, Mandar Bekasi, Jum’at sore (23/04/221).

Ditambahkannya, keberagaman ini sebagai bukti yang memperkuat eksistensi alat musik Kolintang itu sendiri. Bahwa PINKAN Indonesia bersama seluruh stakeholders di Bangsa ini juga punya target untuk UNESCO yakni pengakuan.

“Kami benar-benar khawatir Kolintang terlebih dulu diakui oleh negara lain. Negara terdekat yang ikut-ikutan mengklaim kolintang adalah Malaysia, Filipina juga Afrika. Kalau di Filipina disebut marimba karena terbuat dari besi. Dan, yang kita punya ini terbuat dari kayu. Saya kira, ini benar-benar milik masyarakat Indonsia yang harus dipertahankan dan tentunya dikuatkan oleh badan dunia, UNESCO,” kata Penny Iriana didampingi Ketua Harian PINKAN Indonesia, Drs. Jopie Rory, SH., MH.

Pada kesempatan yang sama Ketua Dewan Pembina PINKAN Indonesia, Laksamana TNI (Purn) Prof Dr Marsetio berharap agar dukungan semua pihak harus ditunjukkan guna mempercepat proses pengakuan tersebut.

“Saya berharap begitu. Karena kami sosialisasi di Kementerian dan mengadakan pembicaraan dengan seluruh warga negara Indonesia, termasuk dengan berbagai lembaga kebudayaan dan semuanya sudah mendukung. Jadi tinggal goalnya ini. Mungkin yang perlu kita perhatikan lagi menyangkut syarata-syaratnya. Mungkin masih ada beberapa yang belum terpenuhi,” kata mantan Kasal yang menjabat era tahun 2012 s/d 2015 ini.

Secara pribadi, Marsetio menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang sudah ikut memberi sumbangsi pemikiran juga dukungannya sehingga program Kolintang diakui dunia terus berjalan.

Disampaikannya, PINKAN Indonesia sudah berjuang kurang lebih tiga tahun. PINKAN sudah mengenalkan musik kolintang dalam acara-acara penyambutan tamu-tamu di bandara dan tempat resmi lainnya, agar masyarakat luas mengenal lebih dekat musik tersebut.

PINKAN Indonesia tidak pernah berhenti melakukan kunjungan ke luar negeri, mempromosikan dan mengenalkan kolintang dimata dunia, diantaranya Moskow, Belanda juga Jepang. PINKAN Indonesia juga menyumbang satu set alat musik kolintang ke beberapa lembaga/Kementerian negara, kantor kedutaan besar dalam dan luar negeri, juga melakukan diskusi, seminar, dan FGD. Semuanya ini dilakukan agar bisa tercipta gol, Kolintang tercatatkan sebagai warisan budaya tak benda milik kita.

Sebelumnya, dalam rangka mendapatkan pengakun badan dunia dimaksud, PINKAN Indonesia telah menggelr berbagai kegiatan sosialisasi dan promosi, tidak hanya di Indonesia namun juga road show keluar negeri dengan takeline Kolintang Goes to UNESCO.

Kegiatan teranyar, seminar secara offline dan online Kolintang Goes to Unesco yang dilaksanakan PINKAN Indonesia berkerja sama dengan Radio Republik Indonesia (RRI), di Auditorium RRI, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, akhir Maret 2021 lalu.

Seminar menghadirkan beberapa panelis yang punya kompetensi antara lain, Prof Ir Wiendu Nuryanti (Budayawan), Judi Wahyudin Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kemendikbud, Laksamana TNI (Purn) Prof Dr Marsetio (Pembina Pinkan Indonesia), Joune J.E. Ganda, SE (Ketua DPD Pinkan Indonesia Provinsi Sulawesi Utara), dan Patricia Mawitjere, SS. MAP, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara. Turut hadir memberi support saat itu, Penny Iriana Marsetio, Mayjen Hendarji, Ronny F. Sompie juga segenap stakeholder RRI dan pengurus Pinkan Indonesia. (rls/pinkan)

  • Share