Sujud Syukur M. Iqbal di Pelataran Lapas Jambi, Kepulangan Sang Driver Ojol ke Pelukan Keluarga

Sujud Syukur M. Iqbal di Pelataran Lapas Kelas IIA Jambi Usai Hirup Udara Bebas.
Sujud Syukur M. Iqbal di Pelataran Lapas Kelas IIA Jambi Usai Hirup Udara Bebas.

SELOKO.ID, Jambi- Suasana di lobi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Jambi mendadak haru, Selasa malam 6 Januari 2026.

Tepat saat jarum jam menunjukkan waktu pembebasannya, driver ojek online (Ojol), Muhammad Iqbal melangkah keluar dari pintu besi yang selama ini membatasi ruang geraknya.

Begitu kaki menapak di lantai lobi, Iqbal langsung bersujud syukur. pihak keluarga yang telah menunggu langsung menghambur untuk memeluknya.

M. Iqbal Peluk Hangat Keluarganya Usai Bebas.
M. Iqbal Peluk Hangat Keluarganya Usai Bebas.

Momen kebebasan ini menandai berakhirnya masa pidana yang dijalani Iqbal di lapas tersebut.

Kebebasan Iqbal malam itu tidak dilalui sendirian. Ia didampingi erat oleh tim penasihat hukumnya yang sejak awal mengawal proses hukum hingga eksekusi pembebasan.

M. Iqbal Saat Bersama Kuasa Hukumnya, Cecep Supriadi.
M. Iqbal Saat Bersama Kuasa Hukumnya, Cecep Supriadi.

Raut bahagia terpancar jelas dari wajah pria 46 tahun itu, usai bebas dari tahanan.

Setelah menjalani masa penahanan selama hampir lima bulan, Iqbal kini dapat kembali berkumpul bersama keluarga.

Dalam sebuah wawancara eksklusif, Iqbal membagikan pengalamannya selama menjalani masa-masa sulit di balik jeruji besi.

Ia mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraan yang luar biasa atas kebebasannya tersebut.

Iqbal menceritakan bahwa total masa penahanan yang ia jalani adalah sekitar lima bulan. Rinciannya, ia sempat mendekam di sel Kepolisian Sektor Jambi Selatan selama dua bulan, sebelum akhirnya dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Jambi selama kurang lebih tiga bulan.

Selama di penjara, Iqbal mengaku menghadapi kondisi yang cukup menantang. Ia harus berbagi satu sel dengan 14 orang tahanan lainnya.

“Kondisi tidurnya ya campur-campur, tidak beraturan, disusun dencis. Kalau siang kami di luar sel, tapi kalau malam ya harus masuk ke dalam,” kenang Iqbal.

Meski merasakan penderitaan karena merasa difitnah, Iqbal memilih untuk mengambil sisi positif dari pengalamannya tersebut. Ia memanfaatkan waktu luangnya untuk mengikuti program pembinaan rohani, seperti mengaji dan menjalankan sholat secara rutin.

“Selama ini saya memang jarang mengaji. Di sini, saya belajar banyak, bisa mengaji dan lebih tekun sholat. Banyak pelajaran hidup yang bisa saya petik, dan saya juga punya banyak teman baru di sini,” ungkapnya dengan nada haru.

Mengenai fasilitas di dalam tahanan, Iqbal menyebutkan bahwa ia mendapatkan jatah makan tiga kali sehari, yakni pagi, siang dan sore. Menu makannya adalah nasi ompreng. Meskipun sempat merasakan sakit selama masa penahanan, semangat Iqbal tidak pernah luntur.

Kini, setelah menghirup udara bebas, Muhammad Iqbal berharap dapat memulai lembaran baru dalam hidupnya.

Kasus yang menimpanya menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih waspada dan tetap menjaga keteguhan iman di masa depan. (Eko)