SELOKO.ID, Muaro Jambi- Upaya kreatif dilakukan jajaran Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Jambi untuk memberdayakan warga binaan.
Di bawah kepemimpinan Kepala Lapas Meita Eriza, lahan yang sebelumnya tidak terpakai kini disulap menjadi pusat ketahanan pangan produktif.
Program ini dirancang bukan sekadar untuk mengisi waktu luang, melainkan sebagai wadah edukasi keterampilan sekaligus sarana psikologis bagi para warga binaan.
“Memang namanya ketahanan pangan itu salah satunya adalah refreshing. Bagi saya secara pribadi, baik warga binaan juga bilang seru kayaknya dengan adanya kegiatan ketahanan pangan seperti beternak ayam, beternak lele, istilahnya perikanan. Jadi memang salah satu untuk refreshing mereka juga di sini,” ungkap Meita saat dijumpai wartawan, Selasa 7 Juli 2026.
Saat ini, area seluas 40 tumbuk di atas lahan total 3 hektare milik lapas telah dioptimalkan untuk bercocok tanam. Berbagai komoditas pangan seperti timun, kesek, cabai, kacang tanah, ubi jalar, hingga aneka sayur-mayur tumbuh subur di sana.
Meita menjelaskan, pemilihan komoditas tersebut telah disesuaikan dengan karakteristik tanah di area lapas agar hasil panen maksimal.
Selain sektor perkebunan, lapas ini juga mengembangkan sektor peternakan dan perikanan yang dikelola langsung oleh warga binaan.

“Lele ini kami rawat sendiri, nanti kami jual ke penyedia. Jadi untuk dikonsumsi balik oleh warga binaan kami di sini. Jadi memang lebih terjamin kan,” jelas Meita.
Hasil ternak, khususnya ayam kampung, kini mulai diminati oleh kalangan pegawai maupun masyarakat sekitar, karena harganya yang terjangkau serta kualitas dan kebersihan yang terjaga.

Program yang melibatkan warga binaan ini memiliki misi jangka panjang, yakni membekali mereka dengan keterampilan praktis.
Meita berharap, keahlian dalam bercocok tanam maupun beternak yang diperoleh selama menjalani masa pidana dapat menjadi modal ekonomi saat mereka kembali ke masyarakat.
“Harapan kami memang ketika dia keluar nanti, bisa keahlian mereka beternak ayam ataupun berkebun itu bisa dibawa keluar, minimal untuk dirinya pribadi,” imbuh Meita.

Meita menyadari bahwa proses reintegrasi sosial seringkali menimbulkan hambatan psikologis bagi warga binaan, seperti rasa minder atau kecemasan. Oleh karena itu, ia terus memberikan motivasi kepada seluruh warga binaan agar memiliki mental yang kuat untuk berubah.
“Selama kita punya tekad yang kuat, selama kita memang berniat untuk merubah nasib kita, pasti ada jalannya,” pungkas Meita. (Eko)
