SELOKO.ID, Muaro Jambi- Alih-alih mencicipi nyamannya ruang kelas baru, para siswa dan guru di Taman Kanak-Kanak Negeri (TKN) 22 Sebapo, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi justru harus menelan pil pahit.
Meski tiga ruang kelas baru (RKB) telah berdiri megah sejak akhir 2025, aktivitas belajar-mengajar masih terpuruk di bangunan lama. Musababnya klasik, tak ada satu pun meja dan kursi yang tersedia di sana.
Pantauan di lapangan pada Senin, 9 Februari 2026, menunjukkan pemandangan yang kontras. Gedung yang menelan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2025 sebesar Rp 489 juta itu kini mulai dikepung ilalang.
Ironisnya, bangunan yang dikerjakan oleh CV Putra Tunggal ini sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan, meski usianya belum seumur jagung.
Selasar samping dan belakang mulai retak, pengecatan plafon terlihat digarap asal-asalan, hingga pintu teralis yang tak bisa terkunci rapat.
“Gedung sudah selesai tiga ruangan, tapi tidak ada mebeuler sama sekali. Jadi, kami tetap di gedung lama agar kegiatan belajar tetap jalan,” ujar seorang sumber kepada awak media.
Persoalan ini memicu polemik terkait transparansi anggaran di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muaro Jambi.
Berdasarkan data yang dihimpun, pemerintah daerah sebenarnya telah mengalokasikan dana sekitar Rp 3,8 miliar pada tahun 2025, khusus untuk pengadaan mebeuler sekolah.
Namun, realita di TKN 22 Sebapo berbanding terbalik dengan angka fantastis tersebut.
Publik kini mempertanyakan distribusi bantuan tersebut, apakah sekolah ini memang tidak masuk daftar penerima, atau ada dugaan kebocoran dalam penyaluran anggaran?
”Kalau anggarannya ada, seharusnya sekolah yang fisiknya sudah dibangun juga dilengkapi fasilitasnya. Ini membuat kami bertanya-tanya, kemana larinya uang itu jika siswa masih harus belajar di gedung lama?” keluh seorang warga setempat.
Saat dikonfirmasi, birokrasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Muaro Jambi terkesan gamang.
Kepala Bidang TK/PAUD yang baru menjabat sejak November 2025 lalu enggan berkomentar jauh mengenai teknis proyek tersebut. Ia berdalih posisi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) masih dipegang oleh pejabat lama, Jasrianto.
”Soal bangunan, langsung konfirmasi ke Pak Jasrianto karena dia PPK-nya. Saya masih baru, masuk bulan November saat anggaran sudah mau tutup, jadi belum memahami sepenuhnya,” ungkapnya melalui pesan singkat.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muaro Jambi, Dr. Kasyful Iman, M.Pd.I, memberikan pembelaan yang cukup mengejutkan. Ia berdalih ketiadaan fasilitas tersebut disebabkan oleh kebijakan efisiensi anggaran.
”Memang anggarannya tidak ada karena efisiensi. Kita baru mampu membangun gedung. Kalau besok ada anggaran lagi, baru kita isi mebeulernya,” ujar Kasyful singkat.
Sikap bangun dulu, isi nanti ini dinilai publik sebagai bentuk pemborosan anggaran yang tidak terencana.
Membiarkan gedung bernilai ratusan juta rupiah kosong dan rusak dimakan cuaca, tanpa pernah digunakan adalah indikasi kuat adanya manajemen proyek yang amburadul.
Masyarakat kini mendesak agar pihak inspektorat maupun aparat penegak hukum mengaudit pengerjaan fisik oleh CV Putra Tunggal, serta menelusuri aliran dana pengadaan mebeuler tahun 2025 yang diduga tidak tepat sasaran.
Hingga berita ini terbitkan, pihak rekanan belum memberikan keterangan resmi, terkait rendahnya kualitas bangunan yang sudah mulai rusak tersebut. (Red)
