Penjelasan Guru SMKN 3 Tanjabtim soal Video Viral Acungkan Arit dan Pengeroyokan

(foto:ist)
(foto:ist)

SELOKO.ID, Jambi- Kasus kekerasan di dunia pendidikan di Jambi kembali terjadi. Kali ini, seorang guru SMK Negeri 3 Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Agus Saputra melaporkan insiden pengeroyokan yang dialaminya di lingkungan sekolah ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Rabu 14 Januari 2025.

Agus menjelaskan, insiden yang terjadi pada Selasa 13 Januari 2025 ini bermula dari kejadian di ruang kelas, saat sang guru sedang memberikan materi pelajaran. Ia mengaku mendapati seorang siswa yang diduga bertindak tidak sopan.

“Kejadiannya bermula dari peneguran siswa di kelas. Di saat dia belajar ada guru, dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakkan kata yang tidak pantas,” kata Agus Saputra kepada wartawan, Rabu 14 Januari 2026 di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

Merasa perlu memberikan pembinaan, sang guru kemudian mendatangi kelas tersebut untuk mengonfirmasi siapa yang melontarkan kata-kata tidak pantas. Bukannya mendapatkan permintaan maaf, guru tersebut mengaku justru mendapatkan tantangan dari siswa yang bersangkutan.

“Saya refleks satu kali menampar muka dia. Itulah kejadian awalnya,” ungkapnya.

Ketegangan tidak berhenti di sana. Sepanjang jam sekolah, situasi dikabarkan terus memanas. Pihak sekolah sempat berupaya melakukan mediasi di lapangan, namun situasi justru semakin tak terkendali.

Sang guru menjelaskan bahwa dalam proses mediasi tersebut, pihak siswa menuntut permintaan maaf atas tindakan fisik yang diterimanya.

Sebaliknya, sang guru menawarkan dua opsi, yakni petisi keberatan mengajar jika kehadirannya tidak diinginkan, atau komitmen perubahan perilaku dari para siswa.

Namun, alih-alih mencapai kesepakatan damai, sang guru mengeklaim dirinya justru menjadi sasaran pengeroyokan setelah diajak masuk ke ruang kantor oleh perwakilan komite.

“Di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2 dan kelas 3. Ada videonya dan sudah viral,” jelas Agus Saputra.

Ia juga menambahkan bahwa dirinya memiliki bukti rekaman suara teriakan para siswa serta bukti dari rekaman CCTV di lokasi kejadian.

Sementara itu terkait video viral yang memperlihatkan dirinya mengacungkan senjata tajam ke arah siswa, Agus membenarkan hal itu.

Menanggapi kegaduhan tersebut, guru SMK Negeri 3 Berbak ini akhirnya memberikan klarifikasi mengenai latar belakang peristiwa, serta tudingan perundungan verbal yang dialamatkan kepadanya.

Kepada wartawan, guru yang mengenakan kemeja abu-abu ini menjelaskan bahwa keberadaan alat pertanian di lokasi kejadian adalah hal yang wajar, mengingat sekolah tempatnya mengajar berbasis pertanian.

“Kebetulan SMK kami itu SMK Pertanian. Jadi peralatan pertanian seperti cangkul dan sebagainya memang sudah tersedia di dalam kantor, tersimpan rapi,” jelasnya.

Ia membantah memiliki niat jahat untuk melukai siswa. Menurutnya, tindakan mengambil alat tersebut dilakukan secara spontan sebagai bentuk pertahanan diri dan upaya untuk membubarkan kerumunan siswa yang mulai bertindak anarkis.

“Kenapa saya pakai itu? Hanya untuk menggertak mereka agar bubar. Tidak ada niat lain. Jika saya tidak melakukan itu, mungkin ada kejadian buruk lagi yang menimpa saya,” terangnya.

Ia mengklaim para siswa justru tidak membubarkan diri dan sempat melempari dirinya dengan benda-benda seperti batu dan batu bata.

Selain soal senjata tajam, sang guru juga mengklarifikasi terkait ucapan-ucapannya yang dinilai merendahkan kondisi ekonomi siswa. Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan merupakan ejekan, melainkan bentuk motivasi yang disampaikan secara umum.

“Saya tidak mengejek anak tersebut. Saya menceritakan secara umum sebagai motivasi. Saya katakan, kalau kita orang kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam,” tandasnya. (Red)