PETI di Merangin Kian Menggila, Nama ‘Bobby’ Mencuat Diduga Jadi Penadah Kelas Kakap yang Tak Tersentuh Hukum

Ilustrasi.
Ilustrasi.

SELOKO.ID, Jambi- Aktivitas dugaan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Kabupaten Merangin, Jambi, khususnya di Kecamatan Tabir Ulu menuai sorotan.

Dugaan praktik ilegal yang merusak lingkungan ini dinilai semakin berani dan masif, bahkan diduga mulai menyentuh kawasan hutan lindung.

Dalam laporan terbaru, muncul satu nama yang diduga kuat menjadi aktor penting di balik rantai bisnis tambang emas ilegal ini, yakni sosok berinisial Bobby.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, Bobby disebut-sebut sebagai pemain lama yang berperan ganda, sebagai penadah emas ilegal, sekaligus pelaku aktif yang memiliki alat berat di lapangan.

Keberadaan penadah seperti Bobby dinilai menjadi faktor utama mengapa aktivitas PETI terus tumbuh subur.

Kemudahan para penambang liar untuk menjual hasil bumi secara ilegal membuat mereka tidak pernah jera, meskipun sering dilakukan penertiban.

Fenomena ini turut mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi XII DPR RI Dapil Jambi, Rocky Candra.

Dalam rapat kerja bersama Menteri Lingkungan Hidup di Gedung DPR RI, ia menyoroti betapa parahnya dampak PETI yang sudah merambah ke pinggir jalan lintas dan hutan lindung tanpa rasa takut.

“Kami mendorong agar ada harmonisasi antar kementerian dan lembaga dalam penanganan PETI-PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin) yang ada di Indonesia ini, Pak Menteri.
Baik itu nanti harmonisasi dengan Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, dan juga kementerian/lembaga yang lain. Kenapa Pak Menteri? Ini sudah sangat meresahkan. Sudah sampai masuk ke hutan-hutan lindung. Dan ini saya yakin Pak Menteri tidak bisa selesaikan sendiri. Ada Kementerian Lingkungan Hidup, ESDM, dan Kehutanan yang harus bekerja sama dengan ini,” tegas Rocky.

Menurut Rocky, kunci utama pemberantasan PETI bukanlah sekadar menangkap pekerja di lapangan, melainkan menindak para penadah.

“Kalau yang ditangkap itu para penambang PETI, hari ini 10 yang ditangkap, besok 50 yang muncul penambangnya. Tapi kalau yang ditangkap itu penadahnya, ah itu hilang semua penambangnya,” ujarnya.

“Kemarin beberapa waktu sebelum bulan puasa itu ada penadah yang di Surabaya yang ditangkap, ada yang di Sumatera Barat,”tambah Rocky.

Selain kerusakan lingkungan yang tak terkendali, menurut Rocky, praktik PETI ini juga disinyalir berdampak pada kelangkaan dan penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Diduga kuat, pasokan BBM yang seharusnya untuk masyarakat justru dialihkan untuk menyuplai kebutuhan alat-alat berat di lokasi tambang ilegal.

“Ini harapan kami bisa bergulir terus ini, tapi harus ada dorongan dari tiga kementerian ini, agar proses untuk penyelamatan lingkungan hidupnya bisa terlaksana. Dampaknya apalagi BBM kita Pak Menteri, dalam situasi seperti ini, itu BBM itu di pom-pom bensin mereka lansir untuk kepentingan PETI,”terang Rocky.

Disisi lain, kondisi aktivitas PETI di Kabupaten Merangin, Jambi yang semakin mengkhawatirkan memicu desakan kuat dari berbagai elemen masyarakat kepada aparat penegak hukum, baik Polres Merangin maupun Polda Jambi.

Masyarakat meminta agar pihak kepolisian segera melakukan langkah tegas dan menyeluruh.

Penindakan diharapkan tidak tebang pilih dan tidak hanya menyasar pekerja kecil, tetapi juga para panadah dan pihak-pihak yang menjadi bekingan di balik maraknya PETI.

Hingga berita ini dipublish, tim redaksi masih berupaya mendapatkan keterangan resmi dari pihak kepolisian, terkait dugaan keterlibatan Bobby maupun aktor intelektual lainnya dalam jaringan PETI di Merangin.

Jika rantai penampungan emas ilegal ini tidak segera diputus, maka kerusakan ekosistem di Jambi dipastikan akan semakin parah dan merugikan generasi mendatang. (Red)