SELOKO.ID, Muaro Jambi- Kenyamanan dan keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Ripin Kabupaten Muaro Jambi kini menghadapi babak baru.
Di satu sisi, fasilitas kesehatan pelat merah ini dipastikan bebas dari ancaman pemadaman listrik total (blackout). Namun di sisi lain, pengadaan fasilitas ini justru memicu persoalan baru terkait efisiensi anggaran daerah.
Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi bersama manajemen rumah sakit baru saja berhasil merealisasikan pengadaan mesin genset berkapasitas jumbo mencapai 1.000 KVA.
Langkah strategis ini awalnya diambil guna menjaga stabilitas pelayanan medis vital yang bergantung penuh pada pasokan listrik tanpa henti, seperti ruang ICU dan ruang operasi.
Proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBDP) Kabupaten Muaro Jambi Tahun Anggaran 2025 ini memakan biaya yang tidak sedikit.

Berdasarkan data Rencana Umum Pengadaan (RUP) dengan nomor kode paket 61052525, proyek bertajuk Belanja Modal Electric Generating Set ini menelan pagu anggaran fantastis sebesar Rp 3.600.000.000 (Tiga Miliar Enam Ratus Juta Rupiah) melalui metode E-Purchasing (E-Katalog).
Pantauan di lapangan menunjukkan unit mesin dari merek ternama Hartech Soundproof bernuansa biru cerah tersebut sudah terpasang kokoh di dalam bangunan pelindung khusus di area komplek RSUD.

Mesin ini dirancang dengan teknologi peredam suara tinggi agar tidak mengganggu ketenangan pasien.
Namun, di balik megahnya fasilitas baru ini, aroma dugaan pemborosan dan ketidakmatangan perencanaan mulai tercium.
Ironisnya, mesin genset raksasa bernilai miliaran rupiah ini kini justru diduga tidak sesuai spesifikasi (spek) dan terancam jarang digunakan.
Penyebab utamanya adalah tingginya biaya operasional yang harus ditanggung oleh pihak manajemen rumah sakit.
Betapa tidak, dalam setiap satu jam operasionalnya, mesin genset 1.000 KVA tersebut membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sebanyak 120 liter. Jumlah yang sangat menguras kantong kas rumah sakit.

Salah satu petinggi RSUD Ahmad Ripin saat dijumpai wartawan pada Kamis 4 Mei 2026 mengatakan, bahwa pihak rumah sakit telah melakukan uji coba terhadap genset tersebut dan mengklaim fungsinya berjalan dengan baik. Namun, ia tidak menampik adanya kendala dalam pemenuhan kebutuhan bahan bakar yang mahal.
“Kami beli yang di toko kecil-kecil, 10 ribu per liternya,” jelas sumber saat dikonfirmasi mengenai operasional genset.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar. Pasalnya, mesin genset raksasa ini awalnya diproyeksikan untuk menunjang fasilitas listrik layanan KJSU (Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi) di RSUD Ahmad Ripin, termasuk pelayanan penyakit kanker, cuci darah, hingga operasional CT Scan.
Akan tetapi, hingga saat ini, Peraturan Daerah (Perda) dan izin operasional untuk layanan kesehatan premium tersebut belum ada. Artinya, mesin berbahan bakar solar ini belum memiliki urgensi pemakaian yang jelas dalam waktu dekat.
Dilema ini semakin diperparah jika melihat rekam jejak pengelolaan fasilitas serupa. RSUD Ahmad Ripin sebelumnya telah memiliki mesin genset berkapasitas lebih kecil, yakni 500 KVA dengan konsumsi solar 40 liter per jam.
Dengan kapasitas setengahnya saja, RSUD tersebut sudah terseok-seok dan terkendala biaya pembelian bahan bakar.
Kini, RSUD Ahmad Ripin justru menambah beban dengan mesin 1.000 KVA yang jauh lebih haus solar, sementara anggaran yang tersedia sangat timpang.
“Anggarannya sebulan hanya 3 juta,” ungkap sumber.
Dengan anggaran operasional yang hanya Rp 3 juta per bulan, dana tersebut dipastikan habis hanya untuk menghidupkan genset raksasa itu selama kurang lebih 2,5 jam saja dalam sebulan.
Kehadiran genset Rp 3,6 miliar ini kini berada di persimpangan jalan, apakah akan menjadi bukti komitmen ketahanan pelayanan medis bagi warga Bumi Sailun Salimbai, atau justru berakhir sebagai monumen besi tua yang mahal akibat perencanaan anggaran yang dinilai kurang matang. (Eko)
